Caesar merupakan metode melahirkan dengan cara disayat pada bagian perut bawah untuk mengeluarkan bayi. Sebelum disayat, biasanya dokter akan melakukan tindakan anestesi (bius) epidural agar dari bagian perut ke bawah mati rasa dan kebal saat operasi berlangsung. Inilah metode yang aku pilih untuk melahirkan anakku. Kenapa harus caesar kalau masih bisa normal ?
Caesar bukan suatu tindakan seorang ibu yang ingin instant melahirkan tanpa rasa sakitnya kontraksi dari pembukaan 1 hingga 10. Aku memilih jalan caesar karena keadaan moms, dimana usia kehamilan aku yang sudah 38 minggu keluar bercak darah terus menerus, memang tidak banyak tapi cukup membuat aku dan suami panik karena tidak ada orangtua yang mendampingi. Ketika kami cek ke dokter, dilakukan transvaginal dan ditemukan adanya luka dimulut rahim. Selain itu aku juga merasakan mules-mules, karena suami aku kerja dan tidak ada yang menemani aku di rumah akhirnya aku putuskan untuk menjadwalkan proses melahirkan caesar dengan dokter obgyn. Menurut dokter kandunganku, 38 minggu adalah masa si bayi yang dikandung sudah sempurna, organ-organ di dalam tubuhnya sudah matang sempurna dan itulah yang membuatku yakin untuk segera bertemu dengan buah hati.
Jadwal yang ditentukan adalah tanggal 22 Maret 2016 pagi. Akhirnya aku masuk rumah sakit pada tanggal 21 Maret 2016 malam, aku masuk ruang IGD dan dilakukan pengambilan darah untuk pengecekan HB (Hemoglobin), cek detak jantung bayi, dan pemasangan infus yang hampir berkali-kali tusuk di tangan karena pembuluh darah aku yang tipis kata perawat. Pukul 23:00 WIB aku pun masuk ruang rawat inap bersama suami dan adikku untuk beristirahat.
Tindakan dimulai pada pukul 05:00 WIB paginya, aku disuruh mengganti baju operasi, disuntik alergi yang menimbulkan rasa panas pada kemaluanku, gunanya suntik alergi setelah aku tanya adalah untuk mengetahui apakah aku ada alergi pada obat-obatan yang akan diberikan dokter pasca operasi. Pukul 06:00 WIB aku dibawa ke ruang operasi didampingi suami, adik dan saudara. Rasa takut, sedih, pasrah sudah bercampur di dada aku, tapi rasa senang karena akan bertemu buah hati yang selama kurang lebih 9 bulan dikandung. Pukul 06:30 WIB aku pun masuk ruang operasi dan mulailah proses operasi, dari anestesi dan pemasangan kateter pada lubang keluarnya air seni. Pukul 06:45 WIB kurang lebih aku mendengar suara tangisan bayi, ketika aku tanya pada dokter, ternyata itu bayiku, alhamdulillah wa syukurillah.. Naya lahir. Tapi aku tidak diijinkan untuk memeluknya langsung karena dia harus segera dibersihkan. Ketika sudah masuk ke ruang rawat inap, baru deh diperlihatkan Naya.
40 hari sudah kami bersama Naya, aku sudah diperbolehkan mandi oleh dokter. Tapi mungkin karena air yang aku gunakan untuk mandi adalah air tanah, jadilah bekas luka operasinya kena bakteri dan timbul berisi air terasa sakit sekali, kemudian pecah setelah 4 hari. Aku bingung, kaget karena mengeluarkan darah dan cairan. Aku sudah pasrah rasanya. Ketika aku menghubungi dokter kandunganku, aku disuruh menutupi luka pecahnya dengan perban bersih sampai ketemu dengan dokter. Begitu diperiksa, luka yang pecah tadi dipencet oleh dokter sampai keluar semua cairannya, dibersihkan pakai alkohol dan diberikan bubuk pengering luka lalu aku boleh pulang. Selang 1 minggu kemudian lukanya yang sudah kering akhirnya diberikan tindakan besoknya untuk dijahit ulang dengan bius lokal. Sakitnya moms luar biasa, karena disuntik bius hanya dibagian kulit yang akan dijahit saja. Tapi aku kurang paham dengan diri aku sendiri, luka jahitan yang baru tersebut terbuka lagi lalu hanya diberikan pengobatan dari luar berupa bubuk pengering dan obat minum untuk kulit. Hingga Naya berusia 9 bulan aku belum bisa mandi karena jahitan belum keloid sepenuhnya, tapi alhamdulillah luka yang dijahit dengan bius lokal tersebut sudah rapet. Harus lebih bersabar lagi.
Caesar bukan suatu tindakan seorang ibu yang ingin instant melahirkan tanpa rasa sakitnya kontraksi dari pembukaan 1 hingga 10. Aku memilih jalan caesar karena keadaan moms, dimana usia kehamilan aku yang sudah 38 minggu keluar bercak darah terus menerus, memang tidak banyak tapi cukup membuat aku dan suami panik karena tidak ada orangtua yang mendampingi. Ketika kami cek ke dokter, dilakukan transvaginal dan ditemukan adanya luka dimulut rahim. Selain itu aku juga merasakan mules-mules, karena suami aku kerja dan tidak ada yang menemani aku di rumah akhirnya aku putuskan untuk menjadwalkan proses melahirkan caesar dengan dokter obgyn. Menurut dokter kandunganku, 38 minggu adalah masa si bayi yang dikandung sudah sempurna, organ-organ di dalam tubuhnya sudah matang sempurna dan itulah yang membuatku yakin untuk segera bertemu dengan buah hati.
Jadwal yang ditentukan adalah tanggal 22 Maret 2016 pagi. Akhirnya aku masuk rumah sakit pada tanggal 21 Maret 2016 malam, aku masuk ruang IGD dan dilakukan pengambilan darah untuk pengecekan HB (Hemoglobin), cek detak jantung bayi, dan pemasangan infus yang hampir berkali-kali tusuk di tangan karena pembuluh darah aku yang tipis kata perawat. Pukul 23:00 WIB aku pun masuk ruang rawat inap bersama suami dan adikku untuk beristirahat.
Tindakan dimulai pada pukul 05:00 WIB paginya, aku disuruh mengganti baju operasi, disuntik alergi yang menimbulkan rasa panas pada kemaluanku, gunanya suntik alergi setelah aku tanya adalah untuk mengetahui apakah aku ada alergi pada obat-obatan yang akan diberikan dokter pasca operasi. Pukul 06:00 WIB aku dibawa ke ruang operasi didampingi suami, adik dan saudara. Rasa takut, sedih, pasrah sudah bercampur di dada aku, tapi rasa senang karena akan bertemu buah hati yang selama kurang lebih 9 bulan dikandung. Pukul 06:30 WIB aku pun masuk ruang operasi dan mulailah proses operasi, dari anestesi dan pemasangan kateter pada lubang keluarnya air seni. Pukul 06:45 WIB kurang lebih aku mendengar suara tangisan bayi, ketika aku tanya pada dokter, ternyata itu bayiku, alhamdulillah wa syukurillah.. Naya lahir. Tapi aku tidak diijinkan untuk memeluknya langsung karena dia harus segera dibersihkan. Ketika sudah masuk ke ruang rawat inap, baru deh diperlihatkan Naya.
40 hari sudah kami bersama Naya, aku sudah diperbolehkan mandi oleh dokter. Tapi mungkin karena air yang aku gunakan untuk mandi adalah air tanah, jadilah bekas luka operasinya kena bakteri dan timbul berisi air terasa sakit sekali, kemudian pecah setelah 4 hari. Aku bingung, kaget karena mengeluarkan darah dan cairan. Aku sudah pasrah rasanya. Ketika aku menghubungi dokter kandunganku, aku disuruh menutupi luka pecahnya dengan perban bersih sampai ketemu dengan dokter. Begitu diperiksa, luka yang pecah tadi dipencet oleh dokter sampai keluar semua cairannya, dibersihkan pakai alkohol dan diberikan bubuk pengering luka lalu aku boleh pulang. Selang 1 minggu kemudian lukanya yang sudah kering akhirnya diberikan tindakan besoknya untuk dijahit ulang dengan bius lokal. Sakitnya moms luar biasa, karena disuntik bius hanya dibagian kulit yang akan dijahit saja. Tapi aku kurang paham dengan diri aku sendiri, luka jahitan yang baru tersebut terbuka lagi lalu hanya diberikan pengobatan dari luar berupa bubuk pengering dan obat minum untuk kulit. Hingga Naya berusia 9 bulan aku belum bisa mandi karena jahitan belum keloid sepenuhnya, tapi alhamdulillah luka yang dijahit dengan bius lokal tersebut sudah rapet. Harus lebih bersabar lagi.
No comments:
Post a Comment